Senin, 22 Oktober 2012

MAWAR INDAH KERTASARI BAGIAN KE 2

 
MAWAR INDAH KERTASARI (bagian kedua)

Cerber, issued by : Frans SD Syahrial.Ir, MM

Matahari mulai meninggi, dan bergerak perlahan bergeser keatas dari senti ke senti ubun kepalaku. Aku bergegas masuk kelas dengan keringat mengalir deras dari jidat hingga turun ke wajah. Diruang kelas Ibu Marie guru bahasa Indonesia yang wajahnya mirip artis Indonesia blasteran Ida Iasha memandang tajam penuh selidik kearah wajah murid kelas IPA satu yang satu persatu masuk keruang kelas tanpa kecuali diriku.

Ummi “ aku berbisik perlahan dan jantungku berdetak saat mataku menatap wajah bundar indah nan cantik lagi melihat diriku melewati pintu masuk ruang kelas. Sekitar sepuluh meter dari bangku tempat aku duduk, Ummi Kalsum berdiri dipintu ruang kelasnya kembali tebar senyum ramah sambil memainkan ball point ditangan kanannya yang putih halus saat aku mencoba diam diam mencuri pandangan.

Sempat mandi gak pagi ini ?” bisik dia sambil mengedip mata kanannya.

Aku mengangguk kepala sambil mencium ujung rambutku yang gondrong sembari mengacung jempol keatas untuk memberi isyarat bahwa sudah di keramas dengan shampo.

Anak jurusan Biologi itu kembali tersenyum ramah dan bersahabat dan terkadang wajahnya yang cantik indah itu memerah semu bila aku menyapanya saat waktu jedah pelajaran.
Sayang sekali diriku sudah punya pacar satu kelas namanya Mellysa Sastri Wardoyo dan kini hubungan kami lagi terancam diujung tanduk. Kalau seandainya aku masih ngejomblo si mawar indah kelas biologi itu pasti aku rebut jadi kekasihku.

Saat aku berpaling keruang kelas, Mellysa lagi berdiri dipapan tulis sedang mengerjakan soal PR bahasa indonesia merupakan salah satu bidang pelajaran hapalan yang tidak ku sukai selain astronomi dan biologi. Aku memang agak berkeringat dingin saat Ibu Marie memandang mukaku selintas. Hmm bisa runyam kalau aku disuruh kedepan mengerjakan PR bahasa Indonesia selanjutnya, dan semalaman PR sebanyak 20 soal itu gak satupun aku selesaikan. Waktuku banyak tersita belajar Fisika, Kimia, dan Matematika selain mengarang novel dan menulis jurnal sains dan teknologi merupakan kegemaran diriku sejak SLTP.

Dibarisan depan bangku tempat aku duduk, cewek berparas imut imut dengan tubuh mungil dengan model rambut medium pixie cut menoleh kebelakang dan melemparkan secari kertas mungil. Kertas itu mendarat mulus diatas buku catatan pelajaran bahasa Indonesiaku.

Romeo kayaknya lu panas dingin jam pelajaran bhs Indonesia hihihi, rasain kamu kalo
disuruhin kedepan oleh Bu Marie “ Aku baca tulisan kecil dikertas mungil itu.

Aku coba tulis untuk jawaban tulisan gadis bertubuh mungil itu. “ Gak panas dingin kok, kan udah diwakili sama doi gue hehehe” kertas mungil dilempar kembali ke meja dia.

Ala Romeo kamu cuma menutup ketakutan saja” kembali dia tulis dibawah tulisan aku.

Kamu kayaknya kena sindrome in love ya kacian dikau “ kembali kertas mungil melayang diatas mejaku.

Sindrome in love itu apanya Non, apa takut sama cewek cewek gak tuh” Aku jawab dibawah
tulisannya.

Orang kena penyakit itu kayak orang bingung, rada bego dan culun hihihi” tulisnya lagi.
Bingung mau milih punai di kelas atau mawar cantik merah di seberang kelas kita” kembali
tulisan tambahan diatas kertas mungil itu lagi.

Hu dasar sopionase cinta, tukang memata matai orang, gak punya kerjaan, entar diri kamu dijadiin pacar kedua gue baru tahu rasa hehehe” . Saya balas tulisan rada ngomporin dari cewek bertubuh ceking dengan wajah cantik imut imut.

Kupandang lekat lekat wajah cewek itu, ternyata baru aku sadari bahwa dikelas ini gak cuma Mellysa doang. Ternyata cewek usil ini gak kalah aduhai juga wajahnya walau tubuhnya rada kerempeng hmm dasar diriku cuek terhadap lingkungan kelas jawabku menggerutu.

Dia kembali tersenyum nakal dan bibirnya yang tipis seperti punya Ummi Kalsum anak kelas biologi seperti menggoda syahwat lelakiku dan senyuman kecilnya menghiasi bibir mereka tipis itu seolah mengejek diriku yang tidak mampu menguasai pelajaran bahasa Indonesia.

Bidadari angin timur awas kamu suatu saat kamu akan bersimpuh dikakiku” Bisik aku
berguman sendiri untuk membulatkan tekad menguasai pelajaran hapalan. Diseberang bangku sana, Mellysa Sastri Wardoyo duduk tegap dengan membusungkan dada terlihat bangga dan congkak bisa menyelesaikan soal soal bhs Indonesia. Sesekali wajahnya yang manis angkuh itu ditolehkan kepadaku, dan senyuman manis itu terasa menghujam kalbuku seakan mengejek kebodohan diriku.

Dibalik kaca jendela sekolah, sinar mentari makin menghangat suhu ruang kelas dan cahayanya memutih berpendar warna warni membias tajam dikaca bening itu. Aku bukan sastrawan apalagi termasuk siswa jago menguasai bahasa Indonesia. Namun walau otakku smart dan jagonya ilmu pasti dikelas ini, rasanya gak bodoh amat untuk mengerti puisi indah tertulis rapih di dalam catatan harian warna ungu muda yang terselip didalam buku catatan mekanika punyaku.

Dirimu penuh misteri
Susah tuk menyelami
Apalagi tuk mengira dasarnya hati

Bagai puncak gunung mahameru
terkadang meng-gemuruh terkadang lelap membeku
Tenggelam menyendiri walau diujung waktu.


Tidak ada komentar: