KEPAKAN
SAYAP PUNAI MERINDU (CONTINUED).
Cerber
karangan Ir, Frans SD Syahrial Rawas, MM,
Issued
at Gempolsari Indah W45, 12.30 AM, 12 July 2013, Bandung.
Selesai
menyantap enak dan lezatnya empek,laksa dan burgonya warung mang uju
diseberang ulu, Wahyu saputra mengemas barang barang kuliah dan
laptop accer kedalam bagcase adidas miliknya yang dibeli kakaknya
Christian Bernadie waktu bepergian ke Hongkong tempo dulu. Pemuda
ganteng berambut kribo wajahnya mirip Randy Valentino bintang utama
filem“ Tembang Kenangan Di Gerbang 76” lagi box office di kota
empek empek ini langsung bergegas melangkah keluar menuju sepeda
motor kesayangan yang sedang nangkring di pelantaran parkir. Baru
melangkah lima langkah dari pintu terasa udara panas langsung
menyengat dijidatnya. Butir butir keringat mulai meremai membasahi
wajahnya yang ganteng menawan itu. Ketika dia berpaling kekanan,
betapa terkejut ketika melihat dibawah salah satu pohon Caarsen atau
poho Seri yang rindang yang berjajar lurus ditepi jalan Sudirman
bundaran seberang ulu dekat jembatan ampera, seorang gadis mirip
wajah Nabila Syakief berdiri tegak menunggu taxi jurusan Plaju sungai
gerong ke arah seberang ilir dan siapa lagi kalau bukan mahasiswi
cantik Universitas Negeri Sriwijaya jurusan teknik pertanian “Maureen
Helen Maudy” atau nama lengkap Maureen Helen Maudy Munawar Al
Jufrrie atau di panggil teman teman sewaktu di SMA Negeri 3 Bandung
yaitu “Heidy Munawar El Juffrie”. Gadis berwajah amboi itu
beberapa kali menyeka keringat membasahi wajahnya dengan saputangan
merah jambu, maklum sekarang lagi musim kemarau panjang di bumi
Balaputra dewa ini. Wahyu Saputra melangkah perlahan menuju mantan
adik kelasnya yang lagi berdiri lunglai menunggu dan mencegat taxi
demi taxi yang lewat baik yang pake argo maupun yang free argo.
“ Heidy
keur naon ? Geuning nyelira .... mana lucy dan Yessy ? Sapa Wahyu
dalam bahasa sunda maklum mereka sama sama tinggal di Bandung dan
sama sama mengenyam duduk bersama di SMA terkenal di jln belitung
itu.
Maureen
menoleh wajahnya kearah Wahyu dan senyuman mulai mengembang dibibir
gadis itu melihat kakak kelasnya semasa di SMA mendekati dirinya.
“ Tiasa
Yu .... geus angkat tipayun ceuna hoyong balanja di pasar 16 ilir”
Jawab Maureen dengan nada lemas.
“Mana
solideritas sesama anak belitung (maksudnya sesama anak SMA negeri 3
Bandung), masak ditinggal sendiri mana panas lagi aduh kacian deh
kamu ? Timpal Wahyu sembari menggoda gadis berwajah indo belanda arab
ini.
Maureen
tertawa kecil mendengar godaan Wahyu Saputra, secara reflek tangan
kirinya yang mungil itu langsung menjewer telinga kanan pemuda
ganteng kakak kelas semasa SMA jalan belitung. “ Mulai ya aksi
ngompor SMA dulu keluar lagi apakah gak bosan bosan ngomporin orang
ya “.
Wahyu
tertawa ngakak ngakak sambil memegang cuping telinganya memerah habis
dijewer mantan adik kelasnya.
“Saya
yang malah yang nyuruh mereka cabut duluan karena mereka punya acara
belanjaan di pasar 16 ilir tahuuuu ? “ Lanjut gadis itu rada
cemberut dibuat buat namun didalam hatinya paling dalam memang
sengaja dia pura pura menunggu taxi jurusan pelaju – 16 ilir tapi
sebenarnya mau menunggu Wahyu Saputra keluar dari warung mang uju.
“Kalo
gitu kenapa sendirian neng ? “ Tanya Wahyu mencoba menggoda gadis
itu.
Mendengar
pertanyaan bernada culun, Mauren Helen Maudy Munawar Al Jufrrie
tertawa geli dan barisan giginya yang kecil berjejer rapih kelihatan
di balik bibirnya yang mungil basah. “ Saya yang mau sendirian kok
situ jadi perhatian ?”.
Maureen
balik nanya sambil tangan kirinya mulai aksi mencubit lengan pemuda
itu saking gemesnya sama wajah ganteng rada cuek bye be.
“ ya
wajar dong masa sama almamater gak saling perhatian “ Jelas wahyu
rada tergagap. Sementara Maureen tersenyum senang melihat tingkah
pemuda itu serba salah kayak pepatah sunda “ Siga monyet nga gulung
kalapa”.
“Wah
kapan ya mulai aksi solidertitasnya kayaknya dulu cuek cuek saja tuh”
Timpal gadis itu balas godain pemuda ini.
“ Ach
bisa aja dikau masa aku cuek cuek saja melihat kamu dulunya “ Jawab
Wahyu tergagap.
Maureen
mulai mengingat mengingat kenangan 5 tahun silam tepatnya ketika
mereka masih sekolah di bandung.
“ Hmm
ingat gak waktu aku pulang jalan kaki di gua pakar dago ayoooo ?
“ Terus
apaan hubungan dengan diriku ? “ Tanya Wahyu dengan kening
berkerut.
Maureen
kembali tertawa kecil dan telunjuknya yang runcing kecil diangkat
tepat di muka hidung pemuda itu.
“ Kamu
kan bawa sepeda motor Moge warna hitam tuh masa aku cuma dipandang
saja gak nawar nawar malah kamu nawarin si Imas dan nenden anak
kelas IPS ayooo ingat gak ? “ .
“Kapan
ya aduuh teu emut neng eta teh geus lami pisan atuh da' “ Jawab
Wahyu.
“Dasar
otak lemot pinter nya cuma otak atik matematika, kimia, fisika dan
biologi saja masa gak ingat waktu kamu turun dari sepeda motor sambil
mapai sisi tebing jalur maribaya-dago utara ? “ Balas Maureen
balik nanya.
Wahyu
berusaha untuk mengingat masa masa silam dulu semasa di Bandung.
“ Oh
ya aku ingat ada gadis bertubuh kerempeng berambut panjang dikepang
dua berwajah mirip Nabila Syakief berjalan lunglai menunggu tumpangan
sepanjang hutan cemara hehehee”
“ Baru
ingat ya dasar otak lemot hehehe “ Balas Maureen godain pemuda itu.
“Ya
mohon maaf hampura pisan teu nawarin kamu yang aku tawarin si Imas
dan Nenden doang sorry Heidy , I am so sorry “ Jelas Wahyu sembari
minta maaf.
'
Ya udah kalo geus nyaho' sekarang aku mau cabut pulang ke tempat kos
tuh taxi berwarna biru muda sudah mendekat “ Ujar Gadis berwajah
aduhai sambil menunjuk sedan taxi berwarna biru muda mendekati mereka
berdua.
“ Gak
mau dianterin nich .... aku coba membalas dosa di goa pakar dulu “
Seloroh Wahyu sambil memegang tangan gadis itu.
Maureen
menggelengkan kepalanya tanda menolak halus tawaran pemuda ganteng
tsb walaupun didalam hatinya merontak mau minta dianterin tapi
namanya gadis keturunan baik baik mana mau tetap jual harga berlagak
sok nolak segala.
“ Takut
deh kalo di bonceng play boy mantan SMA belitung Bandung”
Wahyu
tertawa ngakak mendengar ocehan gadis berwajah aduhai itu. “ Emang
gue Don Daracula ? “.
“ Ya
lah dari pada di gerepe kayak Imas, Nenden dan Catherine anak IPS gak
mau la yau “. Jawab Maureen tertawa geli sambil masuk kedalam sedan
taxi berwarn abiru muda itu dan selanjutnya gadis itu meluncur
bersama taxi melesat melewati jembatan Ampera yang berdiri gagah.
Wahyu
cuma menggeleng geleng kepala melihat tangan lembut putih sang burung
punai merindu melambai tangannya dibalik kaca mobil itu dari
kejauhan.
Dari
ujung sana didalam warung rokok Cek Den suara lembut lagu dangdut
lawas “Tercapai “ melantung sendu dari radio swasta Dewi 7 ulu
Palembang. Suara raja dangdut Rhoma Irama melantung riang riang sendu
feat dengan sang ratu siapa lagi umi Elvie Sukaesih.
Seribu
satu rintangan
Telah
kita lalui
Untuk
Mencapai
Cita
bersama
Demi
membina
Hidup
bahagia.
(bersambung).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar