Minggu, 14 Juli 2013

KEPAKAN SAYAP PUNAI MERINDU.

KEPAKAN SAYAP PUNAI MERINDU.

Cerber karangan Ir, Frans SD Syahrial Rawas, MM,
Issued at Gempolsari Indah W45, 12.30 AM, 12 July 2013, Bandung.



Mentari sudah mulai turun dari cakrawala dan sinarnya mulai membias lemah ditengah Danau Ranau. Jauh ditepian seberang sana Gunung Seminung tetap tegak perkasa bagaikan pasak bumi menengadah keatas langit luas dan puncaknya tetap memutih diselimuti salju tebal abadi.

Wahyu Saputra dan puluhan kawan kawannya mahasiswa dan mahasiswi pelbagai gabungan universitas Palembang sudah bergegas memberesi perlengkapan dan tenda didalam Camp masing masing. Dua jam kemudian seluruh peserta camping sudah masuk didalam bus masing masing untuk segera kembali ke Palembang. Wahyu dan kawan kawannya Syam, Gani, Gun-gun, Herman, Yudi dan Banji sibuk bertugas sebagai kepala regu mengatur jadual keberangkatan masing masing bus peserta camping.

Wahyu baru masuk kedalam bus setelah memastikan semua peserta sudah lengkap ada dan sudah masuk kedalam bus masing masing setelah diabsensi oleh masing masing ketua regu. Ketika masuk kedalam bus dan menuju tempat duduknya, alangkah kagetnya pemuda itu seorang gadis cantik dengan face mirip Nabila Syakief lagi asyik membenahi letak rambutnya yang hitam panjang duduk disamping tempat duduknya.Bau wangi farfum ditubuh Maureen terasa menyeruak lubang hidungnya

Maureen Helen Maudy ............... “ teriak pemuda itu didalam hatinya.

Wahyu duduk perlahan disamping Maureen. Dan gadis cantik itu menoleh kepadanya, hidungnya yang bangir mancung serta tatapan yang sendu serta senyuman manis menghiasi kedua bibirnya yang tipis memerah membuat jantung pemuda itu berdetak tak karuan.

Hai Wahyu apa kabar kamu duduk di bus ini ya....... hmm sorry ya aku pindah bus karena bus yang ku tumpangi kurang nyaman dan A/C nya kurang memadai” .Maureen buka percakapan.

Sudah ada izin untuk menemani aku duduk di bus ini ? “ tanya pemuda itu bercanda.

Sudah dong malah dapat izin telepon langsung dari yang punya cowok“ jawab Maureen balas canda.

Siapa yang mengizinkan kayak kendaraan aja pakai lisensi segala” . Balas Wahyu sekenanya.

Maureen tertawa kecil melihat Wahyu salah tingkah dan gadis itu mendekati wajahnya ke wajah Wahyu.

Aku sudah dapat lisensi dari Syam dan Gani untuk menemanimu ”

Karuan saja Wahyu tertawa geli mendengar canda Maureen Helen Maudy dan Wahyu meringis kesakitan ketika tubuhnya dicubit oleh tangan mulus itu.

Bus masing masing sudah mulai melaju menuju kearah kota Pagar alam yang merupakan kabupaten Pasemah. Dan hari mulai senja dan sinar pelangi tampak berwarna warni membias dari permukaan danau menuju keangkasa bagaikan tangga swarga loka mengiringi bidadari bidadari melenggang pulang menuju istana di mayapada. Sementara didalam bus, Wahyu dan Maureen masing masing tenggelam dalam lamunan menerawang jauh kedalam bias bias pelangi senja. Sesekali pemuda itu memandang wajah cantik duduk disampingnya, dan wajah yang mirip Nabila Syakief itu asyik memainkan jemarinya yang halus dan kedua bolamatanya yang bening itu menatap lurus kearah sinar pelangi senja membias tajam kedasar danau Ranau yang indah.

Hmm alangkah indahnya hidup ini kalau ada cewek idaman disampingku” . Maureen tiba tiba berkata sambil tersenyum kepada Wahyu yang asyik memandang wajahnya.

Siapa yang kamu sindir itu Maureen “ . Tanya Wahyu penasaran.

Alamak kura kura dalam perahu nich” .balas Maureen tertawa kecil.

Siapa lagi kalau bukan gadis cantik yang mirip Cathy Sharon dari Universitas Ida Bayumi”. Lanjut Maureen cuek.

Dari mana kamu dapat bahan gosip ini jangan jangan asal tebak ngawur segala “ . Kembali Wahyu bertanya pada gadis itu.

Maureen Helen Maudy kembali tertawa geli melihat Wahyu terbengong bengong.Tangan kanan gadis itu menjewer telinga pemuda itu dan Wahyu kembali meringis kesakitan.

Kamu penasaran ya tahu dari mana aku dapat info itu. Vania adalah teman karib Yessy temanku. SMS kalian disadap oleh anak anak IBA.. so komunikasi lewat SMS kalian jadi bahan rumor dan gosip antar mahasiswa. Yang membuat aku pernasaran sekali sama cewek itu darimana dia dapat info kalau aku ada masalah denganmu di kantin tempohari “ . Maureen berkata sambil memandang tajam wajah Wahyu.

Barangkali ini kontra inteligen antar mahasiswa perguruan tinggi “ Lanjut Maureen.

Boleh jadi begitu, aku harus hati hati dalam berkomunikasi” timpal Wahyu serius.

Maureen Helen Maudy bunga kampus jurusan Teknik Pertanian Universitas Sriwijaya yang wajahnya mirip bintang sinetron cantik “Nabila Syakief “ terdiam sejenak dan kemudian gadis itu kembali memandang tajam wajah Wahyu Saputra Ketua Senat Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang duduk disampingnya. Pemuda itu tampak memejamkan kedua matanya dan kedua tangannya memeluk bantal kecil yang diberikan kondektur bus. Maureen tersenyum kecil melihat Wahyu tertidur pulas walaupun dalam posisi tidak nyaman.

Dan bus yang ditumpangi grup mereka sudah melewati kota Pagaralam dan sekarang sedang menuju kearah kota Muara Enim. Disebelah kanan tampak sawah membentang luas dengan ribuan bulir padi yang menguning dan disisi pematang sawah, bukit Serelo yang puncaknya seperti telunjuk jari berdiri tegak bagaikan memaku bumi. Maureen kembali arahkan pandangannya ke jendela kaca bus, pikirannya menerawang jauh ketika melihat ribuan padi menguning bagaikan butiran emas yang menghampar di ratusan hektar pematang sawah di sepanjang jalan antara kota Pagar alam dan kota Tanjung Enim. Dia menghayal dirinya kelak sebagai insinyur pertanian memberikan penyuluhan kepada para petani di setiap desa kabupaten di wilayah Sumatera Selatan dengan menggunakan sepeda motor bebek mengarungi setiap pematang sawah penduduk dan alangkah indahnya kalau setiap minggu ditemani oleh sang suami tercinta sambil melakukan penyuluhan kesehatan di setiap puskesmas puskesmas. Ya suamiku adalah harus seorang dokter muda lulusan almamater aku sendiri supaya bisa menemani diriku ikut penyuluhan pertanian sementara dia melakukan penyuluhan kesehatan.......... hmm asyik nian bisik gadis itu dalam hatinya. Dia membayangkan wajah sang suami idamannya berbadan tinggi, wajah ganteng rupawan, berkulit putih halus dan rambutnya hmmm......... Maureen sontak memandang wajah Wahyu Saputra disampingnya dan gadis cantik punya face mirip Nabila Syakief tersenyum sendirian .............. apakah rambutnya ikal keriting?”. Guman gadis keturunan Indo-Arab Palembang sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan ketawa.

Wahyu mencoba membuka kedua matanya walau agak susah karena mengantuk berat. Mulutnya menguap beberapa kali.

Hei Nabila tolong minta air kopinya ngantuk amat nih “ bisik Wahyu ketelinga gadis itu.

Hei enak benar kamu ya ganti namaku Maureen menjadi Nabila. Ingat kalau ganti nama gak sembarangan harus potong kambing “ Jawab Maureen sambil memberi secangkir kopi panas dari dalam thermos punya dia.

Ya boss tapi kamu enak dipanggil dengan nama Nabila dari pada nama Maureen terkesan ke barat baratan “ Timpal Wahyu sambil menghirup air kopi panas yang membuat kedua matanya segar kembali.

Itu nama tidak sembarangan nama “ Maureen Helen Maudy “ adalah pemberian kakek dan nenekku dan ada artinya kok” jawab Maureen.

Tapi yang lucu kan namamu kok gado gado ada bau Belanda dan Arab “ Maureen Helen Maudy Munawar Al Juffrey “ panjang sekali upik “ cetus Wahyu keluarkan jurus canda.

Ya begitulah nama ogut gak bisa nolak memang aku keturunan campuran Belanda-Arab dan Palembang mau gimana ?. Jawab gadis itu setengah berbisik.

Gimana upik kalau aku panggil saja kamu “Nabila Syakief” saja, wajah dan tubuh kok mirip benar. Ujar Wahyu sambil tertawa kecil.

Maureen tertawa mendengar omongan Wahyu yang terkesan kekanakan.
Terserah kamu aja mau dipanggil Maureen kek, Nabila Syakief kek, Helen Munawar kek, atau Maudy kusnaedy al Jufrey terserah aja “

Dibangku depan Syam dan Banji mendengar obrolan kedua remaja itu ikut nyeletuk.
Ah Yu aku dukung kalau kita panggil Nabila Syakief Al Juffrey tepat sekali ada kesan Arabnya”.

Ente ente Majnun kabe “ teriak Maureen.

Gak adil kudunya nama Wahyu diobras juga boy” usul Maureen protes.

Syam berdiri sambil menunjukan telunjuk jarinya.

Kalau boleh usul aku tambah saja biar berbau arab juga gimana kalau Wahyu Saputra Sahab”.

Sahab itu nama kebangsawanan suku Arab toh” Selah Edi sutrisno.

Syam kembali berdiri sambil tertawa geli.

Bukan Ed tetapi Sahab itu kepanjangan dari Suka anak habib”
Banji mahasiswa teknik pertanian tingkat tiga merupakan kakak tingkatnya Maureen ikut nyeletuk.

Awas kau Syam bisa bisa kena damprat keluarga besar Sahab di Palembang ini ”

Sorry deh Maureen aku cuma canda doang gak ada maksud tertentu kok”. Jawab Syam tertunduk malu.

Maureen Helen Maudy cuma tertawa masam dan ketika dia menoleh kekaca bus, ternyata bus yang ditumpangi mereka sudah memasuki kota Muara Enim. Menurut rencananya kompoi puluhan bus himpunan Mahasiswa Se-sumatera selatan akan mengambil route Muara Enim - Prabumulih dan Palembang.

Maureen berusaha untuk memejamkan matanya, namun karena jalan tidak mulus banyak berlubang membuat gadis cantik susah untuk memejamkan matanya barang semenitpun. Disebelahnya Wahyu Saputra sudah pulas tertidur dan melihat pemuda itu bisa tidur dengan nyenyaknya membuat gadis itu kesal pada dirinya.

Perlahan gadis itu merebahkan kepalanya kebahu Wahyu dan kemudian dia bisa tidur dengan kepala menyandar dilengan bahu pemuda itu.

Sejam kemudian Wahyu terjaga dan pemuda itu tersenyum melihat Maureen sudah tertidur nyenyak dengan kepala menyandar dilengan bahunya. Rasa iba menyelimuti perasahaan hati pemuda itu. Melihat sebentuk wajah cantik dengan kepala menengada keatas menyandar dilengan bahunya. Pelan pelan ditariknya lengan bahu kirinya dan direngkuh bahu gadis cantik itu dengan ujung tangannya dan perlahan wajah gadis itu menyandar didada sebelah kirinya dan pemuda itu terpesona melihat kedua bibir yang merah setengah terbuka dengan sederetan gigi kecil yang rapih memutih dan udara hangat yang keluar dari lubang hidung yang mancung bangir itu yang menerpa wajahnya. Begitu dekat wajahnya dengan wajah Maureen dan bau wangi parfum gadis itu membersit dilubang hidungnya membuat tubuhnya hangat dan bergetar.

Lama sekali kembang fakultas teknik pertanian Universitas Sriwijaya itu tertidur pulas didalam pelukan senat fakultas kedokteran. Sementara Bus yang mereka tumpangi sudah melewati kota tanjung enim dan sekarang sedang menuju kearah kota Prabumulih.

Perjalanan sudah memakan waktu tiga jam dari kota Muara Enim dan setiba di pinggiran kota Prabumulih udara diluar mendadak dingin dan hujan tiba tiba turun dengan deras. Kaca bus mulai memutih ditutupi oleh kabut tebal. Wahyu mengambil selimut disampingnya dan menutupi tubuh gadis itu agar tetap hangat, sementara itu Maureen makin erat memeluk tubuh Wahyu dan dia tertidur makin pulas. (Bersambung)




























Tidak ada komentar: