KEPAKAN
SAYAP PUNAI MERINDU.
Cerber
karangan Ir, Frans SD Syahrial Rawas, MM,
Issued
at Gempolsari Indah W45, 12.30 AM, 12 July 2013, Bandung.
Mentari
sudah mulai turun dari cakrawala dan sinarnya mulai membias lemah
ditengah Danau Ranau. Jauh ditepian seberang sana Gunung Seminung
tetap tegak perkasa bagaikan pasak bumi menengadah keatas langit
luas dan puncaknya tetap memutih diselimuti salju tebal abadi.
Wahyu
Saputra dan puluhan kawan kawannya mahasiswa dan mahasiswi pelbagai
gabungan universitas Palembang sudah bergegas memberesi perlengkapan
dan tenda didalam Camp masing masing. Dua jam kemudian seluruh
peserta camping sudah masuk didalam bus masing masing untuk segera
kembali ke Palembang. Wahyu dan kawan kawannya Syam, Gani, Gun-gun,
Herman, Yudi dan Banji sibuk bertugas sebagai kepala regu mengatur
jadual keberangkatan masing masing bus peserta camping.
Wahyu
baru masuk kedalam bus setelah memastikan semua peserta sudah lengkap
ada dan sudah masuk kedalam bus masing masing setelah diabsensi oleh
masing masing ketua regu. Ketika masuk kedalam bus dan menuju tempat
duduknya, alangkah kagetnya pemuda itu seorang gadis cantik dengan
face mirip Nabila Syakief lagi asyik membenahi letak rambutnya yang
hitam panjang duduk disamping tempat duduknya.Bau wangi farfum
ditubuh Maureen terasa menyeruak lubang hidungnya
“ Maureen
Helen Maudy ............... “ teriak pemuda itu didalam hatinya.
Wahyu
duduk perlahan disamping Maureen. Dan gadis cantik itu menoleh
kepadanya, hidungnya yang bangir mancung serta tatapan yang sendu
serta senyuman manis menghiasi kedua bibirnya yang tipis memerah
membuat jantung pemuda itu berdetak tak karuan.
“ Hai
Wahyu apa kabar kamu duduk di bus ini ya....... hmm sorry ya aku
pindah bus karena bus yang ku tumpangi kurang nyaman dan A/C nya
kurang memadai” .Maureen buka percakapan.
“ Sudah
ada izin untuk menemani aku duduk di bus ini ? “ tanya pemuda itu
bercanda.
“ Sudah
dong malah dapat izin telepon langsung dari yang punya cowok“ jawab
Maureen balas canda.
“ Siapa
yang mengizinkan kayak kendaraan aja pakai lisensi segala” . Balas
Wahyu sekenanya.
Maureen
tertawa kecil melihat Wahyu salah tingkah dan gadis itu mendekati
wajahnya ke wajah Wahyu.
“ Aku
sudah dapat lisensi dari Syam dan Gani untuk menemanimu ”
Karuan
saja Wahyu tertawa geli mendengar canda Maureen Helen Maudy dan Wahyu
meringis kesakitan ketika tubuhnya dicubit oleh tangan mulus itu.
Bus
masing masing sudah mulai melaju menuju kearah kota Pagar alam yang
merupakan kabupaten Pasemah. Dan hari mulai senja dan sinar pelangi
tampak berwarna warni membias dari permukaan danau menuju keangkasa
bagaikan tangga swarga loka mengiringi bidadari bidadari melenggang
pulang menuju istana di mayapada. Sementara didalam bus, Wahyu dan
Maureen masing masing tenggelam dalam lamunan menerawang jauh kedalam
bias bias pelangi senja. Sesekali pemuda itu memandang wajah cantik
duduk disampingnya, dan wajah yang mirip Nabila Syakief itu asyik
memainkan jemarinya yang halus dan kedua bolamatanya yang bening itu
menatap lurus kearah sinar pelangi senja membias tajam kedasar danau
Ranau yang indah.
“Hmm
alangkah indahnya hidup ini kalau ada cewek idaman disampingku” .
Maureen tiba tiba berkata sambil tersenyum kepada Wahyu yang asyik
memandang wajahnya.
“ Siapa
yang kamu sindir itu Maureen “ . Tanya Wahyu penasaran.
“Alamak
kura kura dalam perahu nich” .balas Maureen tertawa kecil.
“Siapa
lagi kalau bukan gadis cantik yang mirip Cathy Sharon dari
Universitas Ida Bayumi”. Lanjut Maureen cuek.
“Dari
mana kamu dapat bahan gosip ini jangan jangan asal tebak ngawur
segala “ . Kembali Wahyu bertanya pada gadis itu.
Maureen
Helen Maudy kembali tertawa geli melihat Wahyu terbengong
bengong.Tangan kanan gadis itu menjewer telinga pemuda itu dan Wahyu
kembali meringis kesakitan.
“ Kamu
penasaran ya tahu dari mana aku dapat info itu. Vania adalah teman
karib Yessy temanku. SMS kalian disadap oleh anak anak IBA.. so
komunikasi lewat SMS kalian jadi bahan rumor dan gosip antar
mahasiswa. Yang membuat aku pernasaran sekali sama cewek itu darimana
dia dapat info kalau aku ada masalah denganmu di kantin tempohari “
. Maureen berkata sambil memandang tajam wajah Wahyu.
“ Barangkali
ini kontra inteligen antar mahasiswa perguruan tinggi “ Lanjut
Maureen.
“ Boleh
jadi begitu, aku harus hati hati dalam berkomunikasi” timpal Wahyu
serius.
Maureen
Helen Maudy bunga kampus jurusan Teknik Pertanian Universitas
Sriwijaya yang wajahnya mirip bintang sinetron cantik “Nabila
Syakief “ terdiam sejenak dan kemudian gadis itu kembali memandang
tajam wajah Wahyu Saputra Ketua Senat Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya yang duduk disampingnya. Pemuda itu tampak memejamkan kedua
matanya dan kedua tangannya memeluk bantal kecil yang diberikan
kondektur bus. Maureen tersenyum kecil melihat Wahyu tertidur pulas
walaupun dalam posisi tidak nyaman.
Dan
bus yang ditumpangi grup mereka sudah melewati kota Pagaralam dan
sekarang sedang menuju kearah kota Muara Enim. Disebelah kanan tampak
sawah membentang luas dengan ribuan bulir padi yang menguning dan
disisi pematang sawah, bukit Serelo yang puncaknya seperti telunjuk
jari berdiri tegak bagaikan memaku bumi. Maureen kembali arahkan
pandangannya ke jendela kaca bus, pikirannya menerawang jauh ketika
melihat ribuan padi menguning bagaikan butiran emas yang menghampar
di ratusan hektar pematang sawah di sepanjang jalan antara kota Pagar
alam dan kota Tanjung Enim. Dia menghayal dirinya kelak sebagai
insinyur pertanian memberikan penyuluhan kepada para petani di setiap
desa kabupaten di wilayah Sumatera Selatan dengan menggunakan sepeda
motor bebek mengarungi setiap pematang sawah penduduk dan alangkah
indahnya kalau setiap minggu ditemani oleh sang suami tercinta sambil
melakukan penyuluhan kesehatan di setiap puskesmas puskesmas. Ya
suamiku adalah harus seorang dokter muda lulusan almamater aku
sendiri supaya bisa menemani diriku ikut penyuluhan pertanian
sementara dia melakukan penyuluhan kesehatan.......... hmm asyik nian
bisik gadis itu dalam hatinya. Dia membayangkan wajah sang suami
idamannya berbadan tinggi, wajah ganteng rupawan, berkulit putih
halus dan rambutnya hmmm......... Maureen sontak memandang wajah
Wahyu Saputra disampingnya dan gadis cantik punya face mirip Nabila
Syakief tersenyum sendirian .............. apakah rambutnya ikal
keriting?”. Guman gadis keturunan Indo-Arab Palembang sambil
menutup mulutnya dengan kedua tangannya menahan ketawa.
Wahyu
mencoba membuka kedua matanya walau agak susah karena mengantuk
berat. Mulutnya menguap beberapa kali.
“ Hei
Nabila tolong minta air kopinya ngantuk amat nih “ bisik Wahyu
ketelinga gadis itu.
“ Hei
enak benar kamu ya ganti namaku Maureen menjadi Nabila. Ingat kalau
ganti nama gak sembarangan harus potong kambing “ Jawab Maureen
sambil memberi secangkir kopi panas dari dalam thermos punya dia.
“ Ya
boss tapi kamu enak dipanggil dengan nama Nabila dari pada nama
Maureen terkesan ke barat baratan “ Timpal Wahyu sambil menghirup
air kopi panas yang membuat kedua matanya segar kembali.
“ Itu
nama tidak sembarangan nama “ Maureen Helen Maudy “ adalah
pemberian kakek dan nenekku dan ada artinya kok” jawab Maureen.
Tapi
yang lucu kan namamu kok gado gado ada bau Belanda dan Arab “
Maureen Helen Maudy Munawar Al Juffrey “ panjang sekali upik “
cetus Wahyu keluarkan jurus canda.
Ya
begitulah nama ogut gak bisa nolak memang aku keturunan campuran
Belanda-Arab dan Palembang mau gimana ?. Jawab gadis itu setengah
berbisik.
Gimana
upik kalau aku panggil saja kamu “Nabila Syakief” saja, wajah
dan tubuh kok mirip benar. Ujar Wahyu sambil tertawa kecil.
Maureen
tertawa mendengar omongan Wahyu yang terkesan kekanakan.
“Terserah
kamu aja mau dipanggil Maureen kek, Nabila Syakief kek, Helen Munawar
kek, atau Maudy kusnaedy al Jufrey terserah aja “
Dibangku
depan Syam dan Banji mendengar obrolan kedua remaja itu ikut
nyeletuk.
“ Ah
Yu aku dukung kalau kita panggil Nabila Syakief Al Juffrey tepat
sekali ada kesan Arabnya”.
“ Ente
ente Majnun kabe “ teriak Maureen.
“ Gak
adil kudunya nama Wahyu diobras juga boy” usul Maureen protes.
Syam
berdiri sambil menunjukan telunjuk jarinya.
“Kalau
boleh usul aku tambah saja biar berbau arab juga gimana kalau Wahyu
Saputra Sahab”.
“ Sahab
itu nama kebangsawanan suku Arab toh” Selah Edi sutrisno.
Syam
kembali berdiri sambil tertawa geli.
“ Bukan
Ed tetapi Sahab itu kepanjangan dari Suka anak habib”
Banji
mahasiswa teknik pertanian tingkat tiga merupakan kakak tingkatnya
Maureen ikut nyeletuk.
“ Awas
kau Syam bisa bisa kena damprat keluarga besar Sahab di Palembang
ini ”
“Sorry
deh Maureen aku cuma canda doang gak ada maksud tertentu kok”.
Jawab Syam tertunduk malu.
Maureen
Helen Maudy cuma tertawa masam dan ketika dia menoleh kekaca bus,
ternyata bus yang ditumpangi mereka sudah memasuki kota Muara Enim.
Menurut rencananya kompoi puluhan bus himpunan Mahasiswa Se-sumatera
selatan akan mengambil route Muara Enim - Prabumulih dan Palembang.
Maureen
berusaha untuk memejamkan matanya, namun karena jalan tidak mulus
banyak berlubang membuat gadis cantik susah untuk memejamkan matanya
barang semenitpun. Disebelahnya Wahyu Saputra sudah pulas tertidur
dan melihat pemuda itu bisa tidur dengan nyenyaknya membuat gadis itu
kesal pada dirinya.
Perlahan
gadis itu merebahkan kepalanya kebahu Wahyu dan kemudian dia bisa
tidur dengan kepala menyandar dilengan bahu pemuda itu.
Sejam
kemudian Wahyu terjaga dan pemuda itu tersenyum melihat Maureen sudah
tertidur nyenyak dengan kepala menyandar dilengan bahunya. Rasa iba
menyelimuti perasahaan hati pemuda itu. Melihat sebentuk wajah cantik
dengan kepala menengada keatas menyandar dilengan bahunya. Pelan
pelan ditariknya lengan bahu kirinya dan direngkuh bahu gadis cantik
itu dengan ujung tangannya dan perlahan wajah gadis itu menyandar
didada sebelah kirinya dan pemuda itu terpesona melihat kedua bibir
yang merah setengah terbuka dengan sederetan gigi kecil yang rapih
memutih dan udara hangat yang keluar dari lubang hidung yang mancung
bangir itu yang menerpa wajahnya. Begitu dekat wajahnya dengan wajah
Maureen dan bau wangi parfum
gadis itu membersit dilubang hidungnya membuat tubuhnya hangat dan
bergetar.
Lama
sekali kembang fakultas teknik pertanian Universitas Sriwijaya itu
tertidur pulas didalam pelukan senat fakultas kedokteran. Sementara
Bus yang mereka tumpangi sudah melewati kota tanjung enim dan
sekarang sedang menuju kearah kota Prabumulih.
Perjalanan
sudah memakan waktu tiga jam dari kota Muara Enim dan setiba di
pinggiran kota Prabumulih udara diluar mendadak dingin dan hujan tiba
tiba turun dengan deras. Kaca bus mulai memutih ditutupi oleh kabut
tebal. Wahyu mengambil selimut disampingnya dan menutupi tubuh gadis
itu agar tetap hangat, sementara itu Maureen makin erat memeluk tubuh
Wahyu dan dia tertidur makin pulas. (Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar