Selasa, 30 Juli 2013

Lailatul Qadr Night of Power

Lailatul Qadr Night of Power

Kultum by : Frans SD Syahrial Rawas. Ir, MM
Lailatul Qadr (Night of Power)
==================================================
There is night in the month of Ramadhan which is better than a thousand months (83 years, 4 months). This night is called Laitatul Qadr.
According to Hadith, this night occurs during the last ten days of Ramadhan on one of the odd numbered nights. Usually it is celebrated on the 27th night of this holy month. It is a night of great importance and enormous blessings for Muslims.
A night such as Lailatul Qadr was not granted to any religious community (Ummah) before Muslims. Only the Ummah of the Prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him) were favoured with a night of huge reward. Once reason, it  was granted, was to enable Muslims to equal the worship of any people who lived before us. In the distant past it is said that people lived very long lives of hundreds of years. We, today, live much shorter lives. And so Allah gave us Laitatul Qadr to enable us to do as much worship as a man who lived even hundreds of years longer. If in a lifetime, you only worshipped on Lailatul Qadr ten times, you would have equaled in those ten nights 833 years of worship.


Salah satu keistimewaan didalam bulan Ramadhan yang tidak terdapat pada bulan bulan lainnya adalah didalam bulan agung ini ada satu malam istimewa yaitu malam kemuliaan disebut “Lailatul Qadr” kenapa disebut malam kemuliaan karena karena malam itu adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, doa dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan. Dan Barang siapa beramal dan beribadah pada malam spesial ini maka amal dan pahalanya adalah sama dengan orang beribadah selama seribu bulan (83 tahun 4 bulan) subhannallah apakah umur kita bisa mencapai 83 Tahun 4 bulan dengan tekun mengerjakan Ibadah secara terus menerus tiada hentinya ? Jika ada yang bisa mencapai 83 tahun lebih itu cuma segelintir saja dari umat Rosulullah dan kalau kita tengok beberapa teman teman sekerja dan sahabat kita di kantor ini , teman sekolah, tetangga di komplek perumahan kita, sahabat sepermainan di kampung dulu satu persatu ada yang sudah mendahului kita menghadapi Illahi Rabbi. Dan rata rata umat sekarang susah untuk mencapai umur panjang 50 tahun keatas
Hal ini dijelaskan Firman Tuhan Allah SWT dalam Alquran nul qarim surat Al-Qadr 97.


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾ تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ ﴿٥


1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan 1594. (QS.
97:1)
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS. 97:2)
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. 97:3)
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk
mengatur segala urusan. (QS. 97:4)
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. 97:5)

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al-Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.

Setiap muslim pasti menginginkan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Malam ini hanya dijumpai setahun sekali. Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih mudah mendapatkan kemuliaan malam tersebut karena ibadahnya rutin dibanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang. Sekarang yang jadi pertanyaan dibenak kita kita apa sih pak Frans keistemewaan Lailatul Qadar ? Sampai sampai setiap orang Islam menunggu dan mengintip malam istimewa (special night) ini.

Adapun keistimewaan Lailatul Qadar yang begitu utama dari malam lainnya adalah :

1. Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an

إنا أنزلناه في ليلة القدر

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada lailatul qadr.”
(QS. Al-Qadr (97) ayat 1)

Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.

2. Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan

Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).
An Nakha’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Latha-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.

3. Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan

Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3).
Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan point-point selanjutnya.

4. Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar

Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)
Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.

5. Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’

Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5)
yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.

6. Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan

Allah Ta’ala berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4).
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhahhak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah­ dalam Syarh Muslim (8: 57)- bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah. Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malaikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.

7. Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Fathul Bari, 4: 251)[1]
Selanjutnya bagaimana kita bisa mengenal malam kemuliaan tersebut karena dalam Alquran Tuhan Allah SWT tidak menjelaskan dalam firmanNya secara spesifik kapan Lailatu Qadr itu terjadi ?. Dan memang Rabb tidak menjelaskan karena memang harus ada upaya umat manusia dalam hal ini umat Islam untuk ber-ihtiar dan berjaga jaga agar mendapatkan malam kemuliaan tsb.
Namun Rosulullah saw berpesan kepada Umatnya mengenai tanda tanda malam kemuliaan secara rinci antara lain :


تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 1878)


Yaitu malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan secara hakiki. Yakni malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Lalu sebagian Lalu sebagian ulama berpendapat, Lailatul Qadar berpiindah-pindah dari dari satu malam ke malam ganjil lainnya pada setiap tahunnya. Lailatul Qadar tidak melulu pada satu malam tertentu pada setiap tahunnya.
Namun terlepas hal itu alangkah baiknya kita terus meningkatkan ibadah kita baik sholat sunnat, membaca alquran serta doa doa mulai 10 malam terakhir terutama pada bilangan ganjil
Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan dengan amalan shalih.
Aamin Yaa Mujibas Saa-ilin.
Akhirul qalam alhamduilllah puji syukur kepada Allah hu Rabbi pada Tahun ini saya & Keluarga besar Insya Allah akan pulkam ke Palembang karena sudah empat tahun saya tidak pulang ke kampung halaman sejak pulang dulu karena wafatnya almarhum Ayahanda Haji Syahrial bin Haji Ya'cub. Besar kemungkinan sepanjang tahun kita bergaul dan bekerja di PT NTP ada hal hal yang tidak berkenan, saya Frans Syukri Djunaidi & Klg memohon maaf lahir dan bathin kalau ada baik itu ucapan, tulisan, hal hal menyangkut pekerjaan, serta tindak tanduk tidak berkenan dihati, mohon di maafkan lahir dan bathin dan saya & klg juga sebaliknya akan memaafkan semua kesalahan para saudaraku baik muslimin dan muslimah baik di lingkungan PT NTP atau dimana saja berada. Karena apa ? Hal yang paling memberatkan persoalan di yamul akhir adalah urusan sesama Manusia serta sesama mahluk Allah. Kalau dosa kepada Allah SWT bisa diampuni oleh Nya tetapi dosa kepada manusia kita tidak tahu karena ini menyangkut rahasia hati, ucapan boleh keluar secara mulus tetapi siapa tahu hati tidak tulus .... maka berhati hati lah terhadap urusan sesama manusia apalagi ada tindakan kita menzholimi atau menyakiti sesama saudara kita seiman.... astaghfirullah hal azhim.
Semoga amal ibadah kita sepanjang bulan Ramadhan ini diterima oleh Tuhan Allah SWT dan dilipat gandakan semoga amal ibadah kita (kebetulan) beraktivitas di malam istimewa ini semoga di lipat gandalkan sesuai janji Allah


Wasalam,
Frans SD Syahrial Rawas.




Tidak ada komentar: